Ahmad al Badawy pernah tinggal di Bangka

Badawi yang alim lalu jadi  sufi yang selalu mengenakan tutup muka ini suatu ketika ber-khalwat selama empat puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk meihat langit. Kedua matanya bersinar bagai bara. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tanpa rupa. “Berdirilah !” begitu suara itu terus menggema, Carilah tempat terbitnya matahari. Dan ketika kamu sudah menemukannya, carilah tempat terbenamnya matahari. Kemudian…beranjaklah ke Thantha, suatu kota yang ada di propinsi Gharbiyyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda”.

Beberapa puluh tahun yang lalu beliau mendapat tugas ke daerah Bangka untuk menemui calon muridnya. Tempat yang dituju tidak dijelaskan secara pasti, hanya daerah itu mempuyai rumput “tertentu”. Di Baturusa baru ia menemukan tempat yang memiliki rumput tertentu itu. Ia lalu masuk ke salah satu masjid untuk menunggu datangnya calon murid sampai beberapa hari. Disitu ia hanya beribadah, sambil memegang lidi. Kegiatannya diperhatikan oleh seorang anak laki-laki yang bernama Mohtar Amin. Ia keturunan jaja Palembang, makanya bergelar Kemas.

Mohtar Amin merasa kasihan melihat orang itu tidak pernah makan. Ia menemui orang itu untuk memberikan makanan. Melihat anak itu Syeh Ahmad Baidawy senang, karena dialah calon muri yang dicarinya.

Mohtar Amin tertarik kepada lidi itu. Ketika lidi itu ditaruh di lantai masjid di samping beliau duduk, Mohtar Amin  mencoba mengambilnya, tetapi lidi itu tidak bisa diangkat. Syeh Baidawy menegur: “Lidi itu bukan milikmu, maka haram bagimu. Engkau tidak boleh mengambilnya tanpa minta idzin kepadaku terlebih dulu. Engkau bisa disebut mencuri. Walaupun barang sepele, tetapi tetap berdosa. Orang berdosa masuk neraka.”

Mendengar teguran Syeh Badawy, Mohtar Amin tunduk malu. Ia minta maaf. Ia jadi tahu bahwa orang di hadapannya bukan orang sembarangan. Ia bertanya: “Siapakah anda?”

Yang ditanya menjawab: “Aku bernama Syeh Ahmad Baidawy al Makyi dari Mekah.” Mereka tanya jawab terus, sehingga akhirnya Mohtara Amin iangkat jadi muridnya.

“Ilmu yang saya berikan ini bernama tarekat Ghaibatiruhiatil Bathiniah. Ia mempunyai tingkatan. Yang pertama bernama derajad Budi Suci. Yang kedua bernama tawadhuk, ketiga tkhasyuk, keempat tawaruk, kelima takarub dan teerakhir lamjalallah. Perhatkan baik-baik, dengarkan, hafalkan, praktekkan dan sebarkan.”

Selanjutnya Syeh Ahmad Baidawy menjelaskan syarat-syarat untuk mengamalkan, menguraikan apa yang dilakukan pada masing-masing tingkatan. Setiap selesai menjelaskan Mohtar Amin disuruh mempraktekkan untuk dilihat tingkatan penguasaannya. Tempat latihan terpencil dari orang banyak dan dilakukan pada malam hari.

Mohtar Amin digembleng terus-menerus siang malam selama 40 hari. Ia dinyatakan telah berhasil menguasai tarekat “Ghaibatiruhiatil Bathiniah” dengan baik. Syeh Ahmad Baidawy lalu pamit pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: